Nasional
Butuh dana sekitar Rp75 juta untuk mengangkat dan memuseumkan gajah ini. Demi pengetahuan.
Rabu, 11 Mei 2011, 17:41 WIB
Elin Yunita Kristanti Ilustrasi Gajah (doc. BBC)
Namun, jasad Nyi Bodro tak dibiarkan terus berkalang tanah. Pada Agustus 2010 lalu, pihak keraton memutuska menyerahkan kerangkanya ke Museum Biologi Universitas Gadjah Mada. Demi ilmu pengetahuan. Penyerahan diwakili adik tiri Sri Sultan HB X, GBPH Prabukusumo.
Penggalian dilakukan sejak Rabu 4 Mei 2011. Hari ini giliran pengangkatan atau eskavasi kerangka. Sebuah upacara adat keraton telah dilangsungkan pukul 15.00 WIB tadi sore. Bertempat di kandang sekaligus kuburan Nyi Bodro. "Proses upacara angkat kerangka Gajah itu dihadiri oleh adik tiri Sri Sultan HB X, GBPH Prabukusumo," kata Ludmulla Fitri Untari, Kepala Museum Biologi UGM kepada VIVAnews.com, usai menggali Kerangka Gajah itu dilokasi, Rabu 11 Mei.
Selanjutnya, kerangka Nyi Bodro akan dibersihkan dan diawetkan. Tulang belulangnya akan dirangkai membentuk kerangka gajah yang utuh. Lalu, ditempatkan di Museum Biologi UGM yang bertempat di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta.
Ditambahkan Ludmulla, mulai dari proses pengangkatan kerangka hingga dimuseumkan, menelan dana sebesar Rp75 juta . "Dana dari UGM Rp50 juta, Gubernur DIY Rp20 juta dan Rp5 juta dari proyek imhere," jelasnya. "Yang mahal itu adalah pengawetan yang menelan dana Rp 15 juta dan perangkaian yang menggunakan kawat baja."
Untuk diketahui, Nyi Bodro didatangkan dari Way Lambas, Lampung tahun 1996 silam. Ia mati di usia 29 tahun.
Laporan: Erick Tanjung| DIY, umi
• VIVAnews
Cuma Promosi Web Replika Dapet Duit Modal Dengkul Doank
Tidak ada komentar:
Posting Komentar